Be the miracle

November 29th, 2006 by angrydebritto

            Penat usai deadline, meluncur ke bioskop untuk menikmati aksi konyol Jim Carey dalam film Bruce Almighty adalah opsi yang sulit untuk dilewatkan. Ternyata saya tak hanya diajak tertawa terpingkal-pingkal, tetapi juga disadarkan oleh sebuah frase yang berbunyi “be the miracle”.

            Tokoh Bruce (diperankan oleh Carey) diceritakan sedang marah besar kepada Tuhan karena hidupnya berantakan. Akibatnya, Morgan Freeman (yang memerankan tokoh God) memutuskan turun ke dunia untuk menemui Bruce dan memberinya kesempatan untuk menjadi diri-Nya.

            Bruce girang bukan kepalang karena bisa melakukan apa saja sesukanya. Membelah sup di meja, mengambil sendok dari mulutnya, bahkan mengeluarkan monyet dari – maaf – pantat preman yang memukulinya. Semudah itukah? Salah! Ulah Bruce menarik bulan lebih dekat ke bumi untuk menyenangkan pacarnya berujung bencana alam yang menelan banyak korban jiwa. Niat Bruce membahagiakan semua orang – dengan mengabulkan doa mereka – berujung petaka. Ribuan warga kota Buffalo merusak kota karena secara bersamaan memenangkan undian berhadiah.

            “Itulah manusia. Mereka pikir mudah menjadi Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan jika keajaiban yang mereka minta tak dipenuhi. Padahal, keajaiban tak selalu datang dari atas. Seorang ibu yang bekerja tapi masih bisa mengantarkan anaknya ke sekolah, itulah keajaiban. Seorang pacar yang tak menuntut banyak dan selalu mengerti, itulah keajaiban. Manusia bisa menciptakan keajaibannya sendiri. Be the miracle!” Begitu kira-kira jawaban God ketika Bruce menyerah dan mengembalikan kuasa-Nya kepada yang berhak.

            What a speech!

            Saya – dan mungkin semua yang menonton film itu – seperti dicubit dan diingatkan untuk memaknai keajaiban dalam kaca mata pandang yang baru. Sebenarnya banyak contoh kecil yang bisa disebutkan. Misalnya, Gattuso yang sadar benar tak seberbakat pemain bintang lain. Tapi, dia tak lantas minder, mengeluh, atau meminta keajaiban. Dia memilih berlatih keras, bertualang ke Skotlandia untuk menimba ilmu, sebelum akhirnya pulang ke AC Milan dan lantas menciptakan keajaibannya sendiri. Apa itu? Menjadi pekerja paling keras, gelandang paling termotivasi di skuad I Rossoneri.

            Mirip dengan Ronaldo. Cedera lutut yang sudah nyaris divonis dokter tak tersembuhkan gagal membendung semangatnya bisa menendang bola lagi. Ajaib! Atau kisah Lazio yang dinilai sudah sekarat ternyata mampu bangkit membalikkan semua ramalan buruk soal masa depan mereka. Tak jauh beda seperti FC Porto yang diam-diam mencetak keajaibannya sendiri dengan menjuarai Piala UEFA dan menguasai kompetisi domestik.

            Keajaiban ada di mana-mana. Benar kata Morgan Freeman, kita – manusia – kadang terlalu cengeng menjalani hidup dan kehidupan. Sedikit saja ada yang tak beres, mudah sekali menyalahkan Tuhan. Padahal, siapa tahu justru kita yang belum berusaha keras keluar dari kemelut itu. Sebaliknya, di sisi lain, kita mudah melupakan kerja keras sendiri jika meraih prestasi besar. Padahal, siapa tahu semua rasa – sedih, senang, kecewa, bangga – sebagian besar ditentukan oleh upaya kita sendiri.

(Di sekitar saya pun sesungguhnya ada banyak keajaiban. Di kantor ini, misalnya. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, teman-teman di sini ternyata sudah mampu menciptakan keajaibannya sendiri. Mereka mampu membuat tabloid ini tumbuh dan mekar meski bekerja di kantor yang amat sangat sempit, dengan tenaga yang amat sangat terbatas, dan hanya berbekal pengalaman kerja yang amat sangat minim.

Ternyata keajaiban ada di mana-mana. Ada di sekitar kita, bahkan boleh jadi ada juga dalam diri kita masing-masing. So, let’s be the miracle!)

Ulang (tanpa) tahun

November 29th, 2006 by angrydebritto

            “Selamat ya. Panjang umur, makin sukses, tambah maju.” Begitu ucapan yang kami terima hari-hari ini dari teman, sahabat, relasi bisnis di ulang tahun SOCCER ke-3. Hmm…seperti biasa, saya tergoda untuk memaknai. Kali ini giliran ihwal ulang tahun. Kejadian yang sangat umum dan pernah dialami oleh setiap orang, organisasi, atau catatan peristiwa penting yang mempengaruhi perjalanan peradaban manusia.

            Kenapa kelahiran perlu dirayakan? Jawabannya klise: mensyukuri apa yang sudah didapat, berharap diberi berkah melimpah di tahun-tahun mendatang, menandai sampai di mana perjalanan kita, atau mengingat semangat sebuah peristiwa.

            Saking klisenya, kadang ulang tahun dirayakan datar-datar saja. Sekadar pesta atau perayaan tanpa makna. Kecuali jika yang berulang tahun kebetulan berprestasi besar nan spektakuler. Kado istimewa yang bakal dikenang sepanjang masa.

            Massimo Ambrosini pasti tak bisa melupakan sukses AC Milan menjuarai Liga Champions musim ini. Sehari setelah menggantikan Rui Costa di menit ke-87 – saat menang 3-2 atas Juventus di partai puncak – usianya genap 26 tahun. Dua hari kemudian timnya – meski dia absen karena akumulasi kartu kuning – meraih trofi kedua berupa Coppa Italia.

            What a special birthday!

            Kita tentu masih ingat bagaimana musim lalu Real Madrid bernafsu menandai ulang tahun ke-100 dengan mencetak hat-trick: menjuarai La Liga, Liga Champions, dan Piala Raja Spanyol. Sayang, hanya trofi Liga Champions yang sukses dibopong. Dua lainnya direbut Valencia (La Liga) dan Deportivo La Coruna (Piala Raja). Pahitnya, tepat di hari jadi itu, Madrid kalah dari La Coruna di final Piala Raja. Bukan momen yang layak dikenang.

            Tapi, kenapa ulang tahun harus selalu dihubungkan dengan sukses? Mengapa makna, arti, semangat perayaan hari jadi tak bisa berdiri sendiri? Bisakah gagal dan sukses tak musti dihubungkan dengan ulang tahun? Bukankah orang gagal pun berhak, pantas, layak mensyukuri hari jadinya? Apakah organisasi yang tengah sempoyongan tak boleh berharap memperbaiki kinerja sambil meniup lilin ulang tahun?

            Andai saja kita – baik manusia maupun lembaga – bisa memaknai ulang tahun – terlepas dari predikat gagal atau sukses – boleh jadi semua lilin yang kita tiup akan selalu berkesan. Buat yang sukses, mensyukuri berkah dan berharap mendapat hal serupa di masa-masa selanjutnya. Buat yang gagal, lebih giat mengevaluasi diri sambil berdoa bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

            Makin indah lagi kalau bisa terus menghidupkan semangat ulang tahun dalam keseharian kita: mengevaluasi, mensyukuri, mengharap. Tiap bulan, tiap minggu, tiap hari, tiap menit, bahkan tiap detik. Tak perlu menunggu setahun untuk melakukan hal itu.   

(Saya tiba-tiba merasa amat sangat bangga bekerja di tabloid ini. Saya bangga punya teman-teman dan institusi yang tak pernah berhenti bersyukur, mengevaluasi, memperbaiki diri. Prinsip kerja untuk selalu berusaha dan mengusahakan yang terbaik setiap saat. In every single moment. Mungkin karena itulah hari-hari ini kami bisa merayakan ulang tahun sembari tersenyum.

Tapi, jika di tahun-tahun mendatang kami tak sesukses sekarang, saya sungguh berharap kami masih boleh tersenyum. Bukan ulang tahunnya yang terpenting, melainkan semangat untuk selalu bersyukur, mengevaluasi, memperbaiki diri. Semangat yang seharusnya kita bawa sepanjang waktu. Itulah ulang (tanpa) tahun. )

Gara-gara salah tombol

November 29th, 2006 by angrydebritto

            Memalukan!

            Buat saya, memotret pertandingan besar di pinggir lapangan adalah pengalaman baru. Apalagi merekam partai besar Inter Milan vs Perugia dan AC Milan vs AS Roma dalam lawatan jurnalistik ke Italia. Segala macam rasa – bangga, senang, terharu, terkejut, sekaligus takut gagal, dan khawatir foto tidak jadi atau jelek – membuat otak saya mati sesaat.

            Di pinggir lapangan – dengan memakai jersey fotografer Inter – saya sempat panik ketika mau mengganti gulungan rol film. Pencet sana-sini, kok gulungan film yang lama tidak mau menggulung juga? Buka ini-itu, sama saja hasilnya. Nihil. Film masih saja tersimpan di tempatnya. Padahal, pertandingan terus berjalan. Banyak momen-momen spesial terlewat begitu saja karena perkara sepele itu. Alamak… kenapa semua ilmu fotografi saya seakan menguap seketika?

            Malapetaka lewat karena ada juru potret lokal di samping saya yang berbaik hati mengulurkan tangan. Dengan tersenyum simpul, dia mengajari saya mana tombol yang harus dioperasikan. Setelah selesai – dan kamera bisa dioperasikan kembali – dia berujar halus, “Please don’t be nervous. Just enjoy your job. Everything will be okay.”

            Dia benar. Angan gugup, nikmati saja pekerjaan, serahkan hasilnya kepada yang mengatur segalanya. Sebuah prinsip yang sangat simpel, tapi sangat manjur. Mungkin karena terlalu tegang, saya justru tak maksimal menjalankan tugas. Sebaliknya, setelah bisa lepas dari presure, jepretan demi jepretan mengalir dengan lancar. Sampai di Indonesia, saya pun bersyukur karena hasilnya jauh dari kata jelek.

            Mental!

            Kata itu tiba-tiba muncul di benak saya. Ternyata saya tak cukup punya mental baja di awal-awal masa penugasan sebagai fotografer di pinggir lapangan. Tak kuat menanggung beban untuk menghasilkan liputan dan foto eksklusif. Tanpa mental memadai, mustahil mendapatkan hasil maksimal – apa pun pekerjaan dan bidangnya.

            Marcello Lippi mungkin bisa memaklumi keengganan para pemain bintangnya mengambil tendangan penalti di final Liga Champions. Tapi, justru di situlah kunci kegagalan The Old Lady di Old Trafford. Mereka berlaga dengan mental tak sesiap lawannya. Fakta non-teknis yang ternyata sangat mempengaruhi hasil akhir pertandingan yang relatif datar-datar saja malam itu.

            Di sisi lain, Milan menunjukkan perilaku sebaliknya. Dida dan Sostacurta yang masih cedera, bersedia menanggung beban berat dengan ikut turun ke lapangan. Begitu juga dengan Filippo Inzaghi yang bahkan tak sempat menyelesaikan sesi latihan sehari sebelumnya gara-gara tak fit 100 persen. Toh, saat situasi genting, semua bersedia mengambil risiko. Padahal, catat, Pirlo dan Rui Costa – dua spesialis bola mati di kubu I Rossoneri – sudah ditarik keluar. Jangan lupa juga, Milan punya rapor buruk dalam hal mengeksekusi penalti di ajang Serie-A musim ini. Tapi, mental baja membuat mereka mampu tampil brilian.

            Ketidaksepan mental jugalah yang membuat emosi Antonio Cassano dan Francesco Totti melahirkan dua kartu merah – yang sebenarnya tak perlu – saat melawan Milan di final Coppa Italia. Sebaliknya, sokongan mental yang kuat menjadi modal Milan berlaga malam itu – hanya tiga hari setelah kelelahan menekuk Juventus di final Liga Champions.

            Baru kali ini saya paham jika banyak kemenangan dihubungkan dengan faktor mental. Bukan melulu faktor teknis. Dan, rasanya, tak berlebihan jika ditarik kesimpulan bahwa mental jugalah yang bakal menentukan lurus-bengkoknya jalan hidup kita – nyaris di semua bidang dan aspek.        

       (Sampai detik ini saya masih saja mentertawakan diri sendiri jika mengingat pengalaman memalukan sebagai fotografer amatiran itu. Aib buat seorang wartawan! Sebenarnya malu juga berbagi aib kepada Anda. Tapi, tak apa-apa. Kadang kita justru bisa belajar dari pengalaman pahit orang lain. Tak perlu mengalami sendiri untuk mendapat hikmahnya.)

Sekrup kecil = sekrup besar

November 29th, 2006 by angrydebritto

           Seorang teman mengeluhkan kehidupan cintanya. “Gue merasa tidak berguna. Dia tidak pernah butuh gue. Ke mana-mana sendiri, tidak minta diantar atau dijemput. Apa-apa dilakukan sendiri, tak pernah minta tolong atau mengeluh.”

            Hari berganti hari, bulan beralih bulan, tahun berlanjut tahun. Kini mereka sudah menikah. Saya bertemu dengan mereka lagi di sebuah resepsi. Mereka tampak bahagia dan terlihat saling membutuhkan. Ke mana larinya keluhan di awal kolom ini?

            “Gue salah,” kata teman saya di sela-sela keramaian pesta. “Berguna ternyata tak selalu harus melakukan sesuatu. Kata dia, gue ada saja sudah berarti. Kadang, ada saja sudah cukup. Tak perlu melakukan apa-apa.”

            Hmmm…kurang ajar! Dulu “membuang” waktu saya dengan berkeluh kesah, setelah beres malah sok-sokan berlagak bak filsuf dengan cermah yang tak membumi. Jauh di atas awang-awang kesadaran saya. Lama saya merenungkan jawabannya. Beruntung saya membaca komentar Alex Ferguson soal peran Laurent Blanc di MU. Saya mulai paham maksud teman saya.

            “Saya tak menyesal mendatangkan Blanc dua musim lalu,” kata Fergie ketika ditanya soal Blanc. “Ini bukan hanya soal kemampuannya di lapangan, tetepi juga soal apa yang dilakukannya untuk para pemain muda MU. Kepemimpinannya di ruang ganti tak tergantikan. Dia tak perlu berada di lapangan untuk menjadi pemimpin.”

            Sepintas, Blanc adalah sosok antagonis di MU. Jarang dimainkan dan dikritik sebagai “biang blunder” di awal kariernya di Old Trafford. Plus penilaian sudah lamban, terlalu tua untuk bersaing dengan striker-striker muda Premier League, dan gagal memberi rasa aman pada barisan pertahanan timnya. Tapi, ternyata Blanc punya arti penting di mata manajernya, dan tentu saja rekan-rekan setimnya.

            Kadang seseorang harus rela menerima peran menjadi sekrup kecil di sebuah mesin raksasa. Di sebuah tim sarat bintang seperti MU, tak semua pemain bisa turun ke lapangan. Tapi, tak berarti para pemain cadangan (reserve team) tak punya peran apa-apa. Blanc mencontohkan bagaimana seorang pemain besar bisa melakukan hal besar tanpa harus selalu berada di depan gawang Fabien Barthez, kepir MU.

            Ucapan senada dilontarkan Marcello Lippi usai Juventus merengkuh perisai scudetto ke-27. “Saya salut pada Cristian Zenoni, Salvatore Fresi, dan Marcelo Salas,” puji Lippi. “Mereka menunjukkan sikap yang sangat profesional meski menjalani sebuah musim yang sangat berat. Tak ada yang lebih berat buat seorang pemain selain harus menjalani peran sebagai pemain cadangan.”

            Lippi tahu membangun semangat dan moral tim. Di mata pelatih yang gemar menghisap cerutu ini, sukses tim adalah buah kerja kolektif. Tak hanya ditentukan oleh seorang Pavel Nedved atau Del Piero saja. Semua orang punya peran. Kecil atau besar, tiap orang memberi kontribusi dalam sukses Juventus. Jika tak ada yang mau menanggung peran sepele, mustahil muncul peran-peran agung. Jika semua digabungkan, niscaya bakal melahirkan sebuah sukses yang luar biasa besar.

            (Teman saya pasti tergelak-gelak kalau membaca curhat ini. Boleh jadi dia bakal puas setengah mati karena sukses membuat saya bingung. Bahkan siapa tahu dia tertawa ngakak karena saya salah menangkap makna jawabannya di atas. Tapi, biarlah. Tiap orang – termasuk saya tentunya – punya kebebasan untuk memaknai segala detail hidupnya. Apalagi jika ending-nya bermakna positif.

            Kolom ini, misalnya, pada akhirnya hanya mau berkata bahwa kita mungkin harus belajar menjadi sekrup kecil dalam sebuah mesin. Jika kebetulan sudah menjadi sekrup besar, tak ada salahnya sesekali memberi apresiasi pada teman-teman kita yang kebetulan memegang peran yang tak sebesar kita.

            Kata orang, sebuah tepukan saja sudah cukup. Masalahnya, kita kerap lupa ditepuk dan tak ingat untuk menepuk. Disadari atau tidak…)

Tanpa hati sama saja mati

November 29th, 2006 by angrydebritto

Hari Minggu saya menonton acara RCTI yang sangat menyentuh. Dongkol melihat dua tim favorit saya keok dini hari itu – Inter Milan dan Barcelona – tangan saya refleks memencet-mencet remote control untuk sekadar mengusir rasa kesal. Pencetan saya berhenti pada acara Makna Kehidupan.

Pagi itu menampilkan seorang psikolog kondang (Sartono Mukadis) yang justru makin tegar usai salah satu kakinya diamputasi. Digambarkan dengan jelas – lewat cuplikan dan penuturan kesehariannya sang narasumber – betapa dia bisa memaknai kehilangan satu kakinya bukan sebagai kutukan atau kemarahan Tuhan.

Dia justru percaya benar bahwa Dia punya maksud tertentu dengan memberikan cobaan seberat itu. Sang psikolog kemudian malah merasa makin lengkap meski kaki kirinya kini diganti kaki buatan. Cacat tak berarti harus hidup menderita.

Pengalaman di atas mirip cerita Filippo Inzaghi. Pencetak gol tunggal AC Milan ke gawang inter Milan pekan lalu itu baru saja kehilangan sahabatnya, Samuele. Rasa sedih yang justru membuatnya tampil brilian malam itu. Motivasi berlebih yang dipacu oleh rasa kehilangan.

Sayangnya tak semua orang bisa sebijak Pippo dalam menerima kepedihan. Adiknya sendiri, Simone Inzaghi, misalnya. Striker yang bermain di Lazio ini kabarnya malah makin terpuruk gara-gara ditinggal pergi oleh tunangannya, Alessia Marcuzzi, dan buah hatinya, Tommaso. Tinggal sebatang kara di Lazio – ditinggal pergi keluarganya – membuat karier Simone makin sulit berkembang seperti kakaknya.

Contoh lain bisa kita dapatkan dalam diri Rivaldo. Salah satu sebab eks bintang Barcelona itu gagal bersinar di Milan musim ini karena kehidupan pribadinya sedang bermasalah. Selain mengaku masih butuh waktu untuk beradaptasi, suasana hatinya sedang kacau balau usai pisah ranjang dengan istrinya dan ditinggal pergi buah hatinya. Padahal, anaknya lah yang selama ini menjadi sumber inspirasi dan gairah hidupnya.

  Banyak kisah lain yang bisa disebut soal kegagalan seorang pemain bintang akibat persoalan nonteknis. Reputasi Oliver Kahn sebagai pemain besar, misalnya, langsung dipertanyakan begitu kepergok selingkuh dengan remaja pelayan bar di saat istrinya hamil tua! Emosi berlebihan Christian Vieri di lapangan belakangan ini, sekadar menyebut contoh lain, makin kerap tak terkontrol karena baru saja putus cinta. Penampilannya juga semakin awut-awutan.

Hati. Itulah yang terpenting dari sesosok manusia. Talenta dahsyat seseorang kerap sekali mudah tenggelam karena gagal berdamai dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, dengan kondisi tak sempurna pun seseorang bisa menjadi besar dan hebat jika punya hati yang sempurna. Benar adanya jika nyaris semua pelatih besar di dunia ini selalu meminta pemainnya bermain dengan hati.

(Saya menggumamkan empat huruf ini: h a t i. Hati. Empat rangkaian huruf yang sangat sederhana, tapi butuh kerja keras untuk menemukan wujudnya dalam diri kita masing-masing. Berbahagialah mereka yang bisa menemukan kelengkapan hidup justru setelah salah satu organ terpenting diambil dari tubuh mereka.

Refleks saya memanjatkan doa – dengan sepenuh rasa dan sejuta harap – semoga saya tak perlu kehilangan apa-apa untuk menemukan makna empat kata yang sederhana itu. Terima kasih, pak psikolog. Anda sangat berjasa membagi ilmu kehidupan kepada jutaan pemirsa RCTI pagi itu…) 

Andai dia duduk di kursi itu

November 29th, 2006 by angrydebritto

Waktu saya bersekolah di sebuah SMU khusus cowok, seorang guru menuturkan pengalaman uniknya. Kisah yang sangat berkesan buat cowok-cowok yang selalu terbelalak matanya jika mendengar apa pun soal lawan jenisnya. Di masa mudanya, guru saya itu rajin ke gereja. Sambil berdoa, dia tak bisa menutupi keinginannya untuk mengagumi seorang gadis yang tiap Minggu dilihatnya. Dasar pemalu, keterpesonaannya hanya disimpan di dalam hati. Tak ada keberanian untuk mendekati pun menyapanya.

“Suatu hari,” tuturnya, “saya sengaja menunggunya. Jantung saya berdebar ketika melihat dia datang, duduk di tempat favoritnya, berlutut dan mengatupkan kedua tangannya untuk berdoa. Ah… indah sekali. Saya ragu-ragu mau duduk di bangku sebelah yang kebetulan masih kosong. Ketika keberanian saya muncul… bangku itu sudah terisi. Andai saja hari itu saya duduk di sampingnya, belum tentu hari ini saya bisa berdiri di sini sebagai pastur kalian.”

Sang guru sebenarnya mau mengatakan bahwa kegagalan bisa dimaknai dari beragam sisi. Dia memang gagal berkenalan dengan gadis impiannya. Perkenalan yang siapa tahu bakal menjadikannya seorang suami dan bapak. Namun peristiwa itu toh bisa dimaknai sebagai awal perjalanannya untuk mengabdi kepada Tuhan dan agamanya. Menjadi seorang pastur, gembala umat Katholik yang memilih hidup selibat (tidak beristri-Red) sepanjang hidupnya.

Interisti sekarang ini boleh jadi juga sedang sangat dongkol melihat performa tim kesayangannya pekan lalu. Unggul 3-1 atas AS Roma ketika pertandingan tersisa 7 menit, kecerobohon Francesco Coco dan Dominic Morfeo – menurut pengakuan Hector Cuper, sang pelatih – membantu Roma melesakkan 2 gol untuk menyamakan skor.

Apa pun pembelaannya, hasil itu tentu sangat menyesakkan. Scudetto makin jauh dari jangkauan. Moral tim ambruk. Padahal, beberapa hari kemudian mereka harus melawan Valencia di Liga Champions. Banyak yang menilai Inter nyaris pasti gagal menjuarai Serie-A musim ini. Asumsi yang ditolak mentah-mentah oleh Cuper yang menganggap masih ada peluang di 7 partai sisa.

Makna yang bertolak belakang juga bisa kita ungkap dari tendangan Gabriel Batistuta yang membentur mistar gawang kiper Antonioli di detik-detik akhir. Interisti menyesal bukan kepalang karena eks bomber Roma ini gagal memberi gol kemenangan. Sebaliknya hal itu dimaknai sebagai “sukses” Batigol menjaga perasaan Romanisti dan kubu Roma yang pernah bertahun-tahun menjadi sahabat setianya.

Kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan Batigol dan Inter di pekan-pekan depan. Apakah mereka akan menjadikan kegagalan tersebut sebagai awal duka, atau cambuk untuk memasuki era kebangkitan mengejar Juventus di puncak klasemen. Semua tergantung bagaimana Cuper dan seluruh tim memaknai peristiwa itu dan kemudian menentukan langkah selanjutnya.

Kadang hasil akhir sangat ditentukan oleh bagaimana kita memaknai peristiwa-peristiwa kecil. Kegagalan tak layak disesali berlama-lama, sementara keberhasilan tak seharusnya dinikmati berkepanjangan. Maknailah semua peristiwa dalam keseharian kita supaya hidup menjadi lebih berwarna, lebih berarti, tak pernah berhenti mengalir.

(Saya berterima kasih kepada almarhum Romo Guido Sabdo Utomo, guru sekaligus pembimbing rohani yang saya ceritakan di atas. Pastur enerjik yang mengajarkan bagaimana caranya memaknai peristiwa-peristiwa kecil untuk menjalani keseharian dengan sikap optimistis.

“Beruntung” dia tak jadi duduk di bangku samping gadis incarannya dulu. Kalau tidak, cerita yang sarat makna ini pasti tak bisa saya dengar dan mustahil saya ceritakan ulang dalam kolom ini untuk bersama-sama kita ambil hikmahnya.

Rest in peace, my friend…) 

Keyakinan yang menyesatkan

November 29th, 2006 by angrydebritto

“MEMALUKAN! Apa pun alasannya, you sudah bikin kesalahan fatal. Tak termaafkan! Mana ada penulis sebodoh you? Membedakan Berti Vogts yang berambut lurus dan Rudi Voeller yang berambut keriting saja tidak bisa. Kalau saya jadi you, saya akan berhenti menulis dan mengganti nama di kolom itu. MALU!”

Belum lagi kedua mata saya terbuka pagi itu, serendengan kalimat kecaman sudah memberondong dari gagang telepon. Hari itu adalah hari Kamis, hari pertama SOCCER beredar di pasaran. Tabloid khusus sepak bola yang setiap minggunya memberi kepercayaan teramat besar kepada saya untuk mengisi kolom Injury Time. Di tengah rasa kantuk yang belum sepenuhnya hilang, otak saya bergerak cepat untuk segera menemukan sumber kecaman di telepon tadi.

Sambil menyibak selimut tebal yang sudah tak karuan bentuknya, saya teringat pada kolom yang saya tulis beberapa hari lalu yang berudul Antara janur kuning dan printer. Kolom yang menceritakan elan perjuangan Berti Vogts membawa Jerman melaju ke final Piala Dunia 2002. Berti Vogts? Astaghfirullah!!! Pantas saja teman saya itu – yang memang rajin mengkritik keras dengan maksud yang baik itu – tak sungkan mengganggu tidur lelap saya dengan berondongan kalimat bernada pedas.

Siapapun tahu Vogts telah lama dipecat oleh DFB (asosiasi sepak bola Jerman) usai gagal total di Piala Dunia 1998. Kini dia malah sudah terbang ke Skotlandia untuk menangani tim nasional negeri di kawasan Inggris Raya itu. Semua orang juga mahfum bahwa yang meloloskan Oliver Kahn cs ke final Piala Dunia 2002 adalah Rudi Voeller. Pelatih muda yang mempertontonkan epik kepahlawanan – menyuntikkan semangat juara kepada anak asuhnya yang sebenarnya sama sekali tak diunggulkan – yang membuat banyak orang berdecak kagum.

Oh my God… I made a very very bad mistake!!! Begitu rutuk saya dalam hati. Mungkin pada saat menulis, otak saya sudah terlalu yakin bahwa yang saya maksud adalah Rudi Voeller. Ternyata tangan saya justru menuliskan nama Berti Vogts. What a mistake!!! Kantuk saya kontan sirna. Mata saya terbelalak selebar-lebarnya. Kalimat-kalimat pedas teman saya ternging-ngiang kembali. Apa yang harus saya katakan kepada pembaca tentang keyakinan yang ternyata salah total itu? Saya mencoba mendekati masalah ini dengan membandingkan dengan keyakinan yang bertolak belakang di antara kedua nama yang tertukar itu.

Di Piala Dunia 1998, Vogts percaya benar bahwa pemain senior adalah jaminan mutlak untuk berprestasi. Sampai-sampai dia nekat memasang Lothar Mattheaus yang dikritik publik sudah sangat lamban dan uzur. Apa hasilnya? Gagal total! Bukannya memberi pencerahan, para pemain senior malah menciptakan konflik internal yang meruntuhkan moral tim. Vogts akhirnya harus merelakan jabatannya diambil alih oleh yuniornya. Sama seperti Vogts, Rudi Voeller juga sebenarnya melawan opini publik. Bedanya, pelatih muda ini berkeyakinan bahwa justru pemain muda lah yang bakal mendatangkan prestasi. Berlawanan dengan pandangan umum yang menginginkan jerman masih membutuhkan sosok pemain senior di Piala Dunia 2002. Apalagi setelah Tim Panser dipermalukan 1-5 oleh Inggris di babak kualifikasi. Voeller dituntut “menuakan” tim mudanya. Voeller bersikukuh. Pendiriannya tetap: pemain muda harus diprioritaskan saat bersiap menuju Korea/Jepang. Prinsip yang memunculkan sederet young guns dalam upaya mendongkrak reoutasi negerinya yang tengah memudar hingga partai puncak Piala Dunia 2002. Michael ballack, Critoph Metzelder, Gerlad Asamoah, atau Miroslav Klose dipuji setinggi langit berkat keyakinan dan tangan dingin Voeller. Beda dengan Vogts, nama Voeller menjadi harum karena keyakinannya.

Kata orang, keyakinan adalah modal awal meraih sukses. Jika diibaratkan sebagai modal kerja, ada yang percaya bahwa keyakinan bisa memborong 50 persen modal awal. Sisanya adalah kerja keras dan sedikit faktor keberuntungan. Tentu jika hal itu berdasarkan kalsulasi yang cermat dan perhitungan yang tak asal-asalan. Di sisi lain, seperti yang Vogts dan saya alami, keyakinan bisa menjadi awal petaka. Terutama jika keyakinan itu hanya berangkat dari feeling dan insting serta tanpa didasari bukti-bukti yang kuat. Vogts, misalnya, tak menghitung bahwa kehadiran pemain justru bakal meningkatkan ketegangan di dalam tim dan merusak harmoni yang telah terbangun. Saya, sebagai contoh lain, melakukan kesalahan besar dengan tidak mengecek ulang tulisanyang saya buat sebelum naik cetak. 

(Saya menemukan jawaban atas lontaran kalimat-kalimat pedas pagi tadi. Saya memilih untuk tetap menulis, membuktikan bahwa kesalahan kemaren hanya sekadar kealpaan. Bukan karena saya tak mampu, bodoh, atau stupid. Bisa saja sih saya ganti nama untuk menghapus bad record yang sudah terlanjur tercatat. Tapi pastilah itu bukan pilihan yang bijak pun bertanggung jawab. Lagipula saya bangga sekali dengan nama saya, dan berusaha memperbaiki diri supaya orang tua saya tak menyesal memberi nama indah kepada buah hati mereka. Syaratnya, harus lebih akurat menempatkan keyakinan saya.)

Antara janur kuning dan printer

November 29th, 2006 by angrydebritto

Alkisah suatu hari saya bertemu dengan bidadari nan cantik jelita. Ceria, bersih, putih, mungil, bersih, dan… menawan hati. Tak ada yang lebih mengagumkan selain boleh mengagungkan keindahan Yang Maha Kuasa lewat sosok ciptaan-Nya yang nyaris sempurna. Bibir saya bergumam lirih, “Ah… andai aku boleh memiliki bidadari itu…”

Gumaman yang tak dinyana justru berbuntut panjang. Seorang kawan dengan cengiran khasnya membalas dengan sebaris kalimat yang mengesakkan dada, “Jangan omong doang. Kalau naksir ya diajak kenalan. Chicken (pengecut-Red)!” Ups! Dada ini berdegup kencang mendengar ledekan itu. “Asal janur kuning belum melengkung, kejar!” tambahnya memberi semangat.

Maksudnya, selama dia belum dimiliki oleh orang lain, masih selalu terbuka kesempatan untuk mendekati dan memenangkan hatinya. Tentu jika saya berani memperjuangkan sang bidadari dalam tindakan nyata. Tak sekadar mengimpikannya. Nah, persis di situlah letak kepengecutan saya. Padahal saya sudah dikuatkan oleh pengalaman Rudi Voeller dan Rafael Benitez.

Di mata dua pelatih kelas dunia itu, samasekali tak ada kata takut, apalagi menyerah tanpa perlawanan. Ketika situsai berubah menjadi sangat sulit sekalipun, mereka tetap berjuang keras mencapai hasil maksimal.

Tak ada yang berani meramal Voeller bakal bisa mengantarkan Jerman melaju hingga partai puncak Piala Dunia 2002. Bermodal materi seadanya, dia menyulap Oliver Kahn dkk menjadi the great winning team. Walau akhirnya kalah di final dari Brasil, Miroslav Klose cs keluar dengan kepala tegak. Tak perlu malu meski janur melengkung ke arah Ronaldo dkk di partai puncak yang menegangkan itu.

Elan serupa ditunjukkan Rafael Benitez pekan lalu. Menantang Arsenal yang lebih favorit, dia menolak menyerah kalah. Mati-matian sang pelatih cerdik itu mengejar peluang tipis untuk lolos ke perempat final Liga Champions. Tak sia-sia. Thierry Henry dan seluruh skuad Arsenal dibuat tak berdaya. Buah gemilang yang dihasilkan melalui perlawanan dramatis sepanjang 90 menit permainan. Kisah-kisah serupa rasanya bakal terus bermunculan di babak-babak selanjutnya.

Sayang, kita kerap susah mempraktekkan sikap Voeller dan Benitez. Sadar atau tidak, kita kerap menghentikan langkah di saat kerikil bertebaran di sepanjang jalan yang kita lalui. Sebelum janur dipastikan melengkung ke arah tertentu pun kadang kita dengan cepat mengurungkan niat. Tanpa mencoba lebih keras, berjuang, memaksimalkan potensi.  Kata orang, hidup itu ibarat perjudian. Kadang menang, sesekali kalah. Suatu kali di atas, lain waktu di bawah. Kegagalan dan keberhasilan datang silih berganti. Jalani saja.

Hasil akhir tak akan pernah kita dapatkan jika tak dicoba. Sadar atau tidak, kita kerap membatasi diri dengan segala macam alasan dan pembenaran di balik ketakutan yang menghantui. Saya teringat cerita seorang teman yang rela mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk berkenalan dengan seorang wanita yang menawan hatinya di sebuah pameran komputer. Sebuah mesin printer – yang tak ada dalam daftar belanja – dibawa pulang untuk sekadar punya kesempatan mendekati sang gadis.

Uang yang nilai nominalnya mungkin terbilang besar, tapi menjadi tak ada artinya apa-apa dibandingkan dengan hatinya yang berbunga-bunga. Lebih hidup, tumbuh, mekar dengan siraman pesona sang pujaan hati yang baru dikenalnya itu.

(Sang bidadari menampakkan diri dalam imajinasi saya. Apakah nantinya janur kuning akan melengkung ke arah saya atau dia condong ke arah yang lain? Entahlah… Satu hal yang pasti, janur itu tak akan melengkung ke mana-mana jika tak ada pangeran yang berani menyibak rintangan demi memenangkan hati dan pilihannya. Siapakah sang pangeran yang beruntung itu? Semoga saja saya…) 

berbagi resah

November 29th, 2006 by angrydebritto

"Kalau Anda mau dianggap serius menjalani kehidupan, maka teruslah resah. Jika Anda tidak resah, maka hidup Anda tidak serius"

Itulah salah satu kalimat yang paling sering aku kutip untuk membenarkan segala keresahanku. Kalimat yang kudapatkan dari (alm) Romo Mangunwijaya ketika berkesempatan mewawancarainya untuk sebuah majalah keuskupan di masa mudaku dulu saat masih duduk di bangku kuliah. Sangat berkesan karena baru kali itu aku diuji dua pertanyaan dulu sebelum diperkenankan melanjutkan wawancara. Kalau beliau menganggap aku siap, silakan terus. Kalau tidak, segeralah angkat kaki! Tak peduli aku mengiba-iba datang jauh-jauh dari Bandung. Syukurlah aku lulus tes.

Kembali ke laptop…

Ya, pembenaran karena sebenarnya tanpa kutipan itu pun aku akan selalu saja tetap resah, resah, dan resah. Keresahan itulah juga yang tanpa sadar memotivasiku untuk mulai menumpahkan uneg-uneg pribadi di sebuah kolom jadi-jadian di media tempatku bekerja. Disebut jadi-jadian karena sebenarnya sangat tidak layak disebut kolom. Kolom yang sengaja dibuat keluar dari pakem supaya ada alasan untuk ditampilkan hehehe… Ruang publik yang tanpa sengaja tercipta yang berawal dari keresahan pribadi yang mencari legitimasi dari peristiwa-peristiwa sepak bola. Usulan yang menurutku kreatif yang sempat jadi bulan-bulanan karena dianggap mengada-ada… Meski, sejujurnya, ada mimpi (yang mungkin tidak akan pernah bisa terwujud) untuk bisa menyaingi GM atau Romo Sindhu hahaha…

Begini ceritanya…

Aku bekerja di Tabloid SOCCER, tabloid khusus sepak bola. Tentulah mustahil menyaingi kepakaran tokoh-tokoh sepak bola yang bertebaran dimana-mana. Apalagi semua orang bisa dengan mudah membuat kolom sepak bola atas nama penggemar sepak bola. Maka kuusulkanlah sebuah kolom yang secara bisnis dijual sebagai "pembeda" dengan media-media lain. Sebuah etalase mungil yang - siapa tahu - mampu menarik perhatian orang lain di antara sesaknya berita-berita sepak bola yang sebenarnya hanya berkutat di hal-hal yang itu-itu juga. Dari titik masuk itulah aku mengembangkan gagasan untuk membuat sebuah artikel opini yang mencoba membagikan sesuatu yang sederhana kepada pembaca dengan menggabungkan antara peristiwa keseharian kita dengan peristiwa-peristiwa di lapangan hijau sebagai "main content" tabloid yang kami kelola. Dengan sedikit memanfaatkan posisi, maka gol lah usulan itu hehehe…   

Tanpa terasa sudah lebih dari 3 tahun kolomku hadir nyaris tiap pekan. Syukurlah tidak mendapat respon negatif dari pembaca, meski tidak bisa juga dikatakan disambut baik karena toh oplag mediaku tak juga bisa selaris (alm) Monitor misalnya hehehe… Banyak tanggapan yang masuk. Mulai dari yang mengkritik kalau mau curhat jangan dimasukkan tabloid sampai sepasang suami-istri yang mengaku selalu rebutan membeli SOCCER karena merasa terinspirasi oleh tulisan-tulisanku. Bahkan pernah dibukukan beberapa waktu lalu (yang oleh Mas Arswendo Atmowiloto dan Romo Sindhu ditolak permintaanku untuk menulis kata pengantar hihihi), meski penjualannya tak lebih dari 50 persen jumlah total yang dicetak hahaha…

At least jauh lebih baik ketimbang upayaku dulu membuat kolom aneh-aneh di majalah keuskupan yang berupaya menggabungkan pengalaman keseharian dengan nilai-nilai kagamaan. Malah saat itu aku dianggap murtad karena meresensi film Sister Act dengan permulaan begini… "Jika anak Anda salah menyebut nama 12 Rasul, jangan keburu marah. Siapa tahu kelak dia akan masuk ke biara - meski hanya karena kecelakaan"… Jelas saja para orangtua marah besar hehehe…

Teman, ini sekadar pengantar dari blog ini. Mungkin nantinya banyak tulisan dari kolomku yang akan menghiasi blog ini. Tidak semua. Hanya beberapa yang menurutku cukup punya kualitas untuk dibagikan kepada orang lain. Atau tulisan yang buatku sangat berkesan karena punya makna yang terkait erat dengan pengalamanku sendiri dalam menziarahi jalan kehidupanku. Jangan berharap banyak dari tulisan-tulisan ini. Karena, the end of the day, semua itu hanyalah cermin dari keresahan seorang angry - yang kebetulan cukup beruntung untuk diberi kesempatan membaginya dalam sebuah ruang publik… Dan, belum tentu menarik ketertarikan Anda.

Jakarta, penghujung November 2006