Be the miracle
November 29th, 2006 by angrydebrittoPenat usai deadline, meluncur ke bioskop untuk menikmati aksi konyol Jim Carey dalam film Bruce Almighty adalah opsi yang sulit untuk dilewatkan. Ternyata saya tak hanya diajak tertawa terpingkal-pingkal, tetapi juga disadarkan oleh sebuah frase yang berbunyi “be the miracle”.
Tokoh Bruce (diperankan oleh Carey) diceritakan sedang marah besar kepada Tuhan karena hidupnya berantakan. Akibatnya, Morgan Freeman (yang memerankan tokoh God) memutuskan turun ke dunia untuk menemui Bruce dan memberinya kesempatan untuk menjadi diri-Nya.
Bruce girang bukan kepalang karena bisa melakukan apa saja sesukanya. Membelah sup di meja, mengambil sendok dari mulutnya, bahkan mengeluarkan monyet dari – maaf – pantat preman yang memukulinya. Semudah itukah? Salah! Ulah Bruce menarik bulan lebih dekat ke bumi untuk menyenangkan pacarnya berujung bencana alam yang menelan banyak korban jiwa. Niat Bruce membahagiakan semua orang – dengan mengabulkan doa mereka – berujung petaka. Ribuan warga kota Buffalo merusak kota karena secara bersamaan memenangkan undian berhadiah.
“Itulah manusia. Mereka pikir mudah menjadi Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan jika keajaiban yang mereka minta tak dipenuhi. Padahal, keajaiban tak selalu datang dari atas. Seorang ibu yang bekerja tapi masih bisa mengantarkan anaknya ke sekolah, itulah keajaiban. Seorang pacar yang tak menuntut banyak dan selalu mengerti, itulah keajaiban. Manusia bisa menciptakan keajaibannya sendiri. Be the miracle!” Begitu kira-kira jawaban God ketika Bruce menyerah dan mengembalikan kuasa-Nya kepada yang berhak.
What a speech!
Saya – dan mungkin semua yang menonton film itu – seperti dicubit dan diingatkan untuk memaknai keajaiban dalam kaca mata pandang yang baru. Sebenarnya banyak contoh kecil yang bisa disebutkan. Misalnya, Gattuso yang sadar benar tak seberbakat pemain bintang lain. Tapi, dia tak lantas minder, mengeluh, atau meminta keajaiban. Dia memilih berlatih keras, bertualang ke Skotlandia untuk menimba ilmu, sebelum akhirnya pulang ke AC Milan dan lantas menciptakan keajaibannya sendiri. Apa itu? Menjadi pekerja paling keras, gelandang paling termotivasi di skuad I Rossoneri.
Mirip dengan Ronaldo. Cedera lutut yang sudah nyaris divonis dokter tak tersembuhkan gagal membendung semangatnya bisa menendang bola lagi. Ajaib! Atau kisah Lazio yang dinilai sudah sekarat ternyata mampu bangkit membalikkan semua ramalan buruk soal masa depan mereka. Tak jauh beda seperti FC Porto yang diam-diam mencetak keajaibannya sendiri dengan menjuarai Piala UEFA dan menguasai kompetisi domestik.
Keajaiban ada di mana-mana. Benar kata Morgan Freeman, kita – manusia – kadang terlalu cengeng menjalani hidup dan kehidupan. Sedikit saja ada yang tak beres, mudah sekali menyalahkan Tuhan. Padahal, siapa tahu justru kita yang belum berusaha keras keluar dari kemelut itu. Sebaliknya, di sisi lain, kita mudah melupakan kerja keras sendiri jika meraih prestasi besar. Padahal, siapa tahu semua rasa – sedih, senang, kecewa, bangga – sebagian besar ditentukan oleh upaya kita sendiri.
(Di sekitar saya pun sesungguhnya ada banyak keajaiban. Di kantor ini, misalnya. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, teman-teman di sini ternyata sudah mampu menciptakan keajaibannya sendiri. Mereka mampu membuat tabloid ini tumbuh dan mekar meski bekerja di kantor yang amat sangat sempit, dengan tenaga yang amat sangat terbatas, dan hanya berbekal pengalaman kerja yang amat sangat minim.
Ternyata keajaiban ada di mana-mana. Ada di sekitar kita, bahkan boleh jadi ada juga dalam diri kita masing-masing. So, let’s be the miracle!)